Proses Treating
PROSES
TREATING
Proses Treating adalah suatu proses yang tujuannya
untuk menurunkan impurities serendah mungkin yang terkandung didalam minyak
bumi.
Impurities tersebut dihilangkan antara lain :
1.
Menghindari
korisif terhadap peralatan.
2.
Mencegah
deaktifasi katalis.
3.
Untuk
memperbaiki mutu finis produk maupun intermediate produk.
4. Menghilangkan
senyawa yang dapat mengotori udara dan air sehingga merusak kelestarian
lingkungan dan membahayakan keselamatan lingkungan.
5. Menghilangkan
pengaruh impurities dalam finis produk sehingga syarat-syarat spesifikasi dapat
dipenuhi dan tetap terpenuhi selama produk dalam penyimpanan dan distribusi.
A. CAUSTIC TREATING.
Caustic treating merupakan treating untuk stream produk yang akan
diperbaiki mutunya : warna dll. Senyawa-senyawa asam organik dan komponen
sulphur seperti Naphthenic acid mercaptan akan diikat oleh soda sehingga
senyawa-senyawa tersebut akan diremove dikeluarkan dari stream produk. Jadi pada proses dengan soda ini untuk
menghilangkan : carbonil sulphida, Napthenic acid dll. Pada kero dan gasolin
terutama pada crude naphthenic aromatik mengandung asam-asam : napthenic dan
penol. Untuk light distilate seperti spindel oil
tujuannya seperti kerosine dan gasoil.
Tujuan treating ini juga menetralkan sisa-sisa asam pada treating H2SO4
atau asam organik ester. Secara umum soda dapat dipakai dalam larutan NaOH,
KOH, Na2CO3, Ca(OH)2, Mg(OH)2.
Reaksi Kimia :
H2S + NaOH -----> 2
NaHS + H2O
H2S + NaOH -----> Na2S + H2O
RSH + NaOH -----> RSNa + H2O
Caustic Washing Untuk Gas
B. ACID TREATING
Proses ini digunakan untuk mengurangi kadar sulphur, asphaltik dan
memperbaiki stabilitas warna dan bau dari bermacam-macam fraksi minyak. Pada
umumnya asam sulphat yang digunakan adalah asam sulphat kuat 93 – 98% atau 66oBE
(Beome). Untuk mengikat aromatik dan olefin hydro carbon dapat digunakan asam
sulphat lemah. Kecepatan reaksi H2SO4 pada berbagai
impurities agaknya menunjukkan sebagai berikut :
a.
Senyawa
N = amin, amino
b.
Asphaltik
c.
Olefin
d.
Aromatik
e.
Napthenic
acid.
Reaksi Kimia.
1.
Dearomatisasi menggunakan H2SO4 pekat
misal dalam gasoline.
2.
Deolefinisasi jangan memakai H2SO4
pekat ingat fungsi katalis pada polimerisasi dan alkylasi. Kepekatan yang dipakai H2SO4
85 – 90%
3.
Desulphurisasi
pengikatan dari H2S dan belerang yang dibebaskan yang terbentuk
larut dalam rafinat kemudian dicuci dengan NaOH dan air. Untuk RSH temperatur
direndahkan agar desulphida RSSR yang terbentuk larut dalam H2SO4
Acid Treating
Penggunaan H2SO4
konsentrasi 90 – 93 % tergantung produk yang akan di treat.
Untuk solar konsentrasi 94 % temperatur 60oC
pemakaian H2SO4 1 – 3% lb/feed.
Untuk Naphtha membuang aromatnya konsentrasi
sampai 98%.
NaOH konsentrasi 10 – 15% untuk menetralkan
sisa-sisa H2SO4 dan untuk menghilangkan phenol. Alkyl
mercaptan, sama rganic seperti asam naphthenik. Pemakaian soda agak berlebihan
air digunakan untuk melarutkan sisa-sisa NaOH.
C.
MEROX TREATING.
Tujuan dari proses ini untuk menurunkan
kadar senyawa-senyawa merkaptan dengan
cara mengkonversikannya menjadi senyawa
disulphide.
Merkaptan tersebut dioksidasi dengan udara
dan dibantu katalis berupa senyawa organometal.
1.
Dasar Reaksi.
( RSH
+ NaOH ------> R – S – Na + H2O )
x 2
Merox
2 R – S – Na
+ H2O + ½ O2 ------------> RSSR + 2 NaOH
Katalis
Merox
2 R – S – H
+ ½ O2 ---------> R – S – S – R + H2O
Katalis
Karena
reaksi 1 adalah reaksi kesetimbangan, maka tidak mungkin mengekstrak merkaptan
tersebut sampai tuntas, kecuali bila menggunakan larutan caustic soda yang
sangat banyak.
2.
Uraian Proses.
Campuran feed dengan
larutan caustic dimasukkan dalam pre wash coloumn untuk melaksanakan reaksi (1)
kemudian disaring (melalui saringan
pasir) dari kotoran-kotoran yang berupa karat besi dan lain-lain. Campuran cairan yang
keluar dari sand filter diinjeksi dengan udara sebelum memasuki Merox Reactor
dimana pada prinsipnya akan terjadi reaksi (2). Rekator effluent dialirkan
kedalam caustic settler untuk memisahkan larutan caustic dari fraksi (biasanya
kerosene) yang diproses. Merox treated kerosene
tersebut kemudian dicuci dengan air untuk membersihkan dari sisa-sisa caustic
yang masih ada, disaring melalui saringan garam (agar airnya terserap) dan
akhirnya melalui clay filter untuk mendapatkan treated kerosene yang
benar-benar jernih dan berwarna keemasan.
Merox
Treating
E. PROSES
HYDRO TREATING
Kenaikan pesat dalam proses catalitic
reforming telah menimbulkan produk samping berupa gas hydrogen dalam jumlah
dengan konsentrasi kemurnian serta tekanan tinggi. Kenyataan
ini mendorong untuk proses desulphurisasi catalitic dan proses-proses lain yang
memerlukan konsumsi gas H2. Kenaikan penggunaan proses
desulphurisasi catalitic menggunakan gas H2 dengan relatif murah
karena tersedia dalam proses catalitic reforming dan keperluan utama unit
desulphurisasi feed stock. Proses desulphurisasi katalis dapat dibagi menjadi 2
golongan :
1.
Menggunakan gas H2 bebas dan akibat suatu
kelebihan konsumsi gas H2.
2.
Menggunakan hasil H2
dalam prosesnya sendiri.
1. Naphtha
Hydro Treating.
Fungsi dari hydro treater adalah :
a. Menghilangkan kandungan sulphur dari un stabilizer naphtha sehingga 1
ppm.
b. Untuk menghasilkan naphtha yang memenuhi syarat untuk feed stock dalam
proses catalitic reforming unit.
Metode yang dipakai adalah shell vapour fase hydro treating. Prinsip dari proses adalah reaksi hydrogenasi yang dibantu katalis.
Katalis berupa Cobal dangan Alumina sebagai pembawa. Reaksi-rekasi yang penting
pada proses hydro treating yang terjadi adalah :
Menghilangkan sulphur yang berbentuk H2S.
--Mercapthan : RSH + H2 -------> RH + H2S
Sulphida : R1SR2 + H2 ------> R1H + R2H +
H2S
Disulphida : R1SSR2 + H2 -------> R1H + R2H +
H2S
Kehilangan sulphur dapat mencapai 90% lebih sulphur dihilangkan sebagai H2
dalam bentuk gas dan mudah dipisahkan dalam senyawa hydro carbon. Katalis dan kondisi proses umumnya dipilih dengan meminimize reaksi
samping seperti hydrogenasi, hydro cracking, penjenuhan senyawa aromat pada
kondisi operasi yang kuat, senyawa O2 dapat diubah menjadi air
senyawa N menjadiamonia dan dalam fraksi berat sampai crude oil dapat mereduksi
kandungan logam.
Flow Proses :
Feed dibersihkan dulu dari kandungan airnya kemudian diinjeksi dengan gas
H2 dari plat former selanjutnya dipanaskan pada furnace pada suhu
300oC. Feed masuk reaktor dari atas, hasil reaksi keluar dari bawah
kemudian didinginkan dengan cooler kemudian masuk separator HPS, LPS untuk
dipisahkan liquid hydro carbon, sour water dan gas. Gas dari separator untuk
supply gas system sedang sour water di kirim ke sour water system. Liquid masuk
stabilizer spliter untuk mendapatkan Naphtha untuk feed stock plate forming
unit.
Kondisi operasi umum catalyst Co, Mo dari alumina sebagai carrier :
Temperatur :
260 – 370 oC
Tekanan : 20 – 60
kg/cm2
Spes. Velocity : 2
– 10
Sirkulasi H2 m3/m3ft : 60 – 400
Pengaruh proses variable :
a.
Temperatur
b.
Tekanan
c.
Spes Vilocity
d.
Gas recycle ratio
Untuk feed
stock unit hydro treater untuk fraksi ringan dapat berupa :
a.
Stright run Naphtha
b.
Light Naphtha
Sedangkan
fraksi kerosine, avtur dan gasoil distilate berat deasphalting oil dapat juga
untuk minyak mentah dan residu.
2. Hydro Desulphurisasi
Dalam
menghilangkan sulphur dalam senyawa hydro carbon dalam fraksi minyak, gas H2
dengan bantuan panas dan katalis akan memutus ikatan belerang dari ikatan
kimianya yaitu ikatan belerang dengan karbon. Kemudian senyawa H2S
akan memisahkan diri pada bentuk gas umumnya. Hydro Desulphurisasi merupakan
proses unit menghilangkan sulphur dari produk-produk minyak bumi dan bermanfaat
untuk meningkatkan mutu dari refinery stream. Prosesnya dalah merubah suatu
impurities belerang jadi H2S. Karena reaksi dengan H2
dalam katalis yang tersedia, banyak perusahaan minyak telah mengembangkan
proses ini dan memilih bermacam-macam fariasi proses. Tetapi prosesnya secara
fundamental adalah sama.
2 fersi shell
dari proses antaranya :
a. Shell trical
hydro desulphurisasi untuk prosesing dari hasil crack medium dan heavy
distilate.
b. Shell vapour
hydro treating untuk prosesing distilate ringan.
Reaksi kimia
yang terjadi adalah reaksi dari mercapthan, sulphida, theopine disulphida dll.
Hydro desulphurisasi juga memperbaiki mutu dan warna serta bau, warna yang
tidak stabil disebabkan adanya senyawa N dalam minyak adanya bau disebabkan
adanya senyawa asam yaitu O2 dalam minyak misal senyawa phenol,
componen-componen belerang lebih banyak terdapat pada fraksi-fraksi lebih berat
oleh karena itu kondisi operasi gasoil hydro desulphurisasi lebih berat dari
pada naphtha karena jumlah kadar belerang pada gasoil lebih banyak.
Untuk proses
penghilangan kadar sulphur dalam gasoil misalkan dengan proses shell trical
desulphurisasi dengan katalis : Co, Mo (Cobal Molideb) dengan Al3O3
sebagai carier. Dengan bantuan katalis ini dalam reaktor terjadi reaksi-reaksi
desulphurisasi, denitrifikasi dan hydrogenasi. Dalam operasinya diperlukan gas
H2 untuk mengikat S berasal dari plat forming unit.
a.
Uraian Proses :
LGO setelah
kontak dengan H2 dan recycle gas masuk ke HE kemudian mengalir
kedalam furnace selanjutnya masuk ke reaktor. Dalam reaktor terjadi reaksi
kimia pengikatan belerang. Hasil reaksi keluar dari bottom reaktor mengalir ke
vesel dimana terjadi pemisahan antara gas dan cairan, gas disirkulasikan sedang
liquid masuk ke stripper atau dryer, sebagian masuk vesel kemudian dibuang ke
flair dan produk light gasoil yang bebas belerang ditampung.
Pada umumnya
proses desulphurisasi terdiri dari :
a.
Reaktor
b.
Stripper da dryer
c.
Compressor.
LGO sebagai
umpan diinjeksikan bersama-sama dengan gas H2 dan recycle gas
mengalami pemanasan pendahuluan di HE kemudian dipanaskan dalam dapur sehingga
suhu mencapai 320oC selanjutnya masuk reaktor. Reaktor berupa drum
vertical yang berisi katalis. Produk dari reaktor melalui dasar didinginkan
melalui HE kemudian masuk HPS dengan tekanan 51 kg/cm2 gauge. Gas
yang kelura dari separator melalui jaringan induk diinjeksi dengan wash oil
biasanya dipaka kero untuk menghilangkan senyawa carbon serta impurities yang
terikut gas H2. Kemudian melalui HE dan masuk kevesel sebagian
dibuang ke flair sebagian masuk ke recycle gas drum untuk memisahkan cairan
selanjutnya masuk ke gas compressor sebagai recycle gas. Cairan dari separator
(HPS) masuk ke LPS. Bottom produknya dikirim ke seksi stripper sedang top
produk mengalir ke vesel untuk memisahkan air, wash oil dan gas.
b.
Seksi Stripper.
Cairan minyak
dari LP dipanaskan dengan medium pressure stream mencapai suhu 171oC
kemudian masuk ke side stripper kolom. Didalam stripper fraksi hydrocarbon
didinginkan dengan fin fan kemudian masuk ke vesel untuk dipisahkan fraksi
hydro carbon air dan gas. Pada stripper dilengkapi dengan injeksi steam
tujuannya adalah untuk mengatur flash point. Botom produk dari stripper
kemudian didinginkan lalu dialirkan ke dryer. Temperatur disini mencapai 94oC
dengan tekanan vacum 68 mm Hg. Metode kevakuman dengan metode steam jet ejektor.
Botom produk dari dryer dipisahkan ke strorage setelah didinginkan dengan
udara.
c.
Seksi Kompresor
Fungsinya
menaikkan tekanan gas H2 disamping mengempa press gas juga merecycle
gas H2. Gas sebelum di kempa dilewatkan ke knock out drum untuk
memisahkan liquidnya. Gas inlet compressor tekanan 48 kg/cm2 dan
tekanan discharge mencapai 56 kg/cm2 dan selanjutnya diinjeksikan
kedalam light gasoil.
d. Proses Varibale :
Proses variable
antara lain :
1.
Temperatur dan tekanan reaktor.
2.
Kualitas feed stock.
3.
Viscosity
Disamping itu
juga kualitas katalis ikut menyakseskan proses HDS.
Kenaikan suhu
reaktor pengaruhnya kebutuhan gas H2 naik sampai maksimum dan
diikuti dengan sebagian cairan yang menguap karena sampai suhu 350oC
akan terjadi hydro cracking, juga pembentukan coke pada katalis akan bertambah.
Tekanan operasi yang dikehendaki sekitar 54 kg/cm2 dengan
perkembangan kondisi peralatan dan pengaruh tekanan partial gas H2
cukup tinggi. Tekanan gas tergantung dari tekanan gas dan recycle gas dan juga
feed gas ratio. Pengaruh tekanan pembentukan coke dapat dicegah sehingga
katalis life lebih lama. Penghilangan S dapat efektif konsumsi H2
naik dengan demikian tekanan akan mempengaruhi mutu produk yang dihasilkan.
Kualitas produk, mutu dari feed berpengaruh pada katalis life. Demikian juga
banyaknya belerang dalam feed stock akan mempengaruhi jalannya operasi
lebih-lebih apabila reaksi pembentukan coke lebih cepat berarti keatipan
katalis akan turun.
e.
Space Velocity.
Kecepatan bahan
melewati katalis sangat berpengaruh jalannya reaksi, makin rendah kecepatannya
maka reaksi makin sempurna karena waktu kontak makin lama demikian pula
sebaliknya. Dengan kita kemukakan perbandingan sengan shell trical hydrogenasi
dengan shell vapor fase hydro treating.
Jadi perbedaan vis velocity kg.ft/lb katalis 1-5 shell trical, 3-6 shell
vapor.
Reaktor temperatur 320 – 380oC vapor kira-kira gas recycle
rate 75 – 200, 50 – 150 vapor operating pressure kg/cm2 untuk shell
trical 40 – 50 hydro treating 20 – 40.
Distillate Hydrodesulfurization
Komentar