Distilasi Atmosferik
PROSES DISTILASI
Proses
distilasi adalah proses pemisahan berdasarkan perbedaan titik didih dari
masing-masing komponen didalam campuran, makin besar perbedaan titik didih dari
komponen-komponennya akan didapatkan kemurnian hasil pemisahan makin tinggi.
Didalam
proses pengolahan minyak bumi ada 3 macam distilasi yang dikenal yaitu :
1.
Distilasi Atmospherik
2.
Distilasi Vakum
3.
Distilasi Bertekanan (Distilasi Light End).
1. PROSES DISTILASI
ATMOSPHERIK.
Proses distilasi atmospheric adalah suatu proses pengolahan minyak
mentah (crude oil) menjadi produk-produk yang setengah jadi maupun
produk jadi. Proses ini adalah suatu proses awal (primeri proses) dimana minyak
bumi dalam hal ini crude oil dipisahkan berdasarkan perbedaan titik didih dari
suatu komponen didalam suatu campuran. Distilasi
Atmospheric adalah proses pemisahan minyak bumi secara fisis dengan
mengggunakan perbedaan titik didih. Karena crude oil adalah campuran dari
komponen-komponen yang sangat komplek dan pemisahan berdasarkan
fraksi-fraksinya sehingga distilasi ini pemisahan dengan berdasarkan trayek
titik didihnya (jarak didih). Tekanan kerja dari distilasi atmospheric pada
tekanan atmosfir yaitu tekanan operasi antara 1 atmosfir sampai dengan 1,5
atmosfir.
Dalam proses distilasi atmospheric akan
didapatkan hasil sebagai berikut :
-
Gas
-
Light Naphtha
-
Heavy Naphtha
-
Kerosine
-
Solar dan Residue
a.
Proses Alir.
Crude oil setelah di
proses di Desalter untuk dihilangkan kandungan garamnya atau dari tangki
kemudian dipompa untuk menuju dapur/furnace. Sebelum masuk furnace dipanaskan
pendahuluan di Heat Exchanger (HE) + 270oF supaya tidak
terjadi pemanasan mendadak di furnace. Dari HE kemudian crude oil masuk furnace
untuk dipanaskan sampai temperatur yang diinginkan + 350oC,
kemudian masuk ke menara fraksinasi. Di furnace fraksi-fraksi gas, bensin,
kerosine dan solar akan menguap tetapi fraksi-fraksi ini belum mengalami
pemisahan. Kemudian crude oil masuk ke kolom fraksinasi ke dalam flash zone (daerah penguapan),
di sini terjadilah pemisahan antara fraksi uap dan fraksi cair. Uap yang terdiri dari gas,
bensin, kerosin dan solar di flash zone akan naik ke menara fraksinasi
sedangkan fraksi cair yang berupa residu akan turun ke bottom kolom yang biasa
disebut product bottom. Residu dari
bottom kolom kemudian dipompa masuk ke HE untuk didinginkan kemudian masuk
cooler untuk mendapatkan pendinginan lebih lanjut kemudian dimasukkan kedalam
tangki timbun. Fraksi uap dari
flash zone yang naik menuju ke puncak menara akan melewati tray-tray sehingga
akan terjadi kontak antara uap yang naik dengan cairan yang ada pada tray.
Karena terjadi kontak dengan cairan tersebut, maka uap yang mempunyai titik
didih yang sama dengan titik didih liquid di tray akan mengembun. Dari hasil
pengembunan di tray dikeluarkan melewati draw off yang kemudian sebagai hasil
samping (side stream). Hasil-hasil dari side stream yang paling bawah adalah
fraksi berat (solar), kemudian diatasnya kerosine, bensin dan produk yang
paling atas adalah bensin dan gas yang biasanya disebut top produk.
Produk samping
(side stream) kemudian dimasukkan ke dalam stripper untuk dipisahkan fraksi
ringannya yang masih terikut pada produk tersebut dengan dibantu steam
stripping kemudian dari stripper dimasukkan kedalam cooler untuk didinginkan
baru kemudian dimasukkan kedalam tangki timbun. Produk paling
atas (top product) kemudian dimasukkan kedalam condensor untuk diembunkan
kemudian ditampung di accumulator. Di accumulator akan terpisah antara gas yang
tidak dapat mencair naik ke accumulator kemudian dapat diproses lebih lanjut di
LPG Plant.Sedangkan
cairan yang tertampung di accumulator kemudian sebagian di tampung ke tangki
timbun sebagian ada yang digunakan untuk reflux. Reflux ini dimaksudkan untuk
mengatur suhu cairan tray di top kolom agar terjaga tetap sesuai dengan yang
dikehendaki. Hasil
pengolahan distilasi atmospheric ini adalah sebagai intermediate product
(produk sementara) karena produk-produknya belum memenuhi spesifikasi
pemakaiannya sehingga perlu untuk diolah lebih lanjut di secundary process.
b. Seksi-Seksi.
Bagian-bagian yang ada
dalam proses pengolahan Distilasi Atmospheris terdiri dari beberapa seksi
antara lain :
a.
Heat Pick Up Suction (pemanfaatan panas)
Seksi ini memberikan
sumber panas yang berasal dari produk-produk untuk memanaskan pendahuluan crude
oil dengan harapan untuk tidak terjadi pemanasan mendadak dan juga penghematan
energi panas. Panas ini berasal dari
produk side stream maupun produk bottom, diharapkan panas mencapai se maksimum
mungkin.
b.
Furnace (Dapur)
Dapur merupakan ruang
bakar dimana hasil pembakaran memberikan panas dan panas ini akan digunakan
untuk pemanasan crude oil.
Beberapa type dapur dapat
digunakan misal : box, cabin, circular dll).
Sedangkan
didalam dapur terdapat 2 seksi pemanasan yaitu :
-
Seksi Radiasi
-
Seksi Konveksi
Sedangkan fungsi dapur adalah untuk memanaskan
crude oil tetapi disini belum terjadi penguapan.
c.
Kolom
Fraksinasi.
Kolom fraksinasi ini
berfungsi untuk pemisahan fraksi-fraksi minyak bumi. Crude oil setelah melalui
furnace dimasukkan dalam fraksinasi melalui seksi flash zone diharapkan
temperatur di flash zone sama dengan temperatur waktu keluar dari dapur yaitu
max 370oC (tergantung jenis crudenya).Didaerah flash zone akan
terjadi pemisahan yakni cair turun kebawah
sedangkan uapnya naik keatas. Didalam kolom dilengkapi dengan tray yang
jumlahnya tergantung pada crude yang di olah dan ukuran tower. Adapun fungsi
plate ini adalah bertujuan untuk pemisahan lebih tajam (sempurna).
Seksi fraksinasi ada 2
yaitu :
1). Seksi Rectifiying terdiri dari :
-
Overhead Product
-
Side Stream
a)
Over Head Product.
Fraksi ringan dari pada minyak
bumi akan tetap bersifat sebagai uap dan keluar dari puncak kolom sebagai over
head product. Uap-uap ini kemudian dapat dicairkan dengan pengembunan melalui
condensor dan gas yang tidak mencair akan keluar dari tangki sebagai gas
kilang, sedangkan uap yang mencair kemudian dipisahkan kandungan airnya.
Sedangkan sebagian produk ini dikembalikan ke tower sebagai reflux.
Fase uap yang mencair
karena adanya plate-plate ini akan memberikan hasil dari hasil samping (side
stream).
b). Side Stream.
-
Produk Naphtha.
Produk ini akan
dihasilkan pada hasil samping yang mana karena banyak pengembunan pada
plate-plate, pada tray-tray dibawah tray puncak.
- Produk
Kerosine.
Produk Kerosine
merupakan produk samping juga yang dihasilkan ditray-tray dibawah tray naphtha,
hal ini disebabkan karena boilling ringnya lebih tinggi dari pada Naphtha.
- Produk
Solar/Gasoil.
Produk
solar/gasoil merupakan produk paling berat dari hasil kondensasi crude oil yang
masuk ke flash zone.
Sehingga
mempunyai boilling range yang paling tinggi dari fraksi uap.
2). Seksi Stripping : Bottom product
Bottom product merupakan
produk cairan (tak teruapkan dalam dapur) sehingga jelas botom product ini
mempunyai boilling range paling tinggi dari fraksi-fraksi minyak bumi. Kerap kali bottom product ini terkontaminasi oleh product yang ringan
karena kondisi operasi.
Maka
untuk menghilangkan kontaminasi-kontaminas ini dapat dilakukan dengan penguapan
kembali melalui reboiler.
3). Produk Samping.
Pada
umumnya produk-produk samping yang diinginkan untuk disempurnakan karena adanya
kontaminan-kontaminan. Penyempurnaan produk samping ini dalam toping unit
dilakukan dalam stripper.
d.
Seksi Stabilizer.
Apabila produk-produk
masih dalam keadaan tidak stabil karena perubahan kondisi misal suhu maka
produk ini harus distabilkan melalui alat yang disebut stabilizer. Proses ini
dilakukan dengan pemanasan sehingga terjadi penguapan fraksi ringan, pemisahan
uap dan cairan dilakukan didalam kolom stabilizer yang juga sering dilengkapi
dengan tray.
Fraksi ringan yang berupa
uap akan keluar melalui puncak stabilizer yang selanjutnya akan diembunkan
melalui kondensor.
e.
Seksi Splitter.
Apabila produk-produk yang
sudah stabil ingin kita pisahkan menjadi 2 (dua) yaitu fraksi ringan atau light
dan fraksi berat atau heavy, maka hal ini harus dilakukan dalam alat disebut
splitter.
c. Peralatan Utama.
Didalam proses distilasi
atmopheric peralatan-peralatan yang digunakan cukup banyak, sehingga perlu
dikenal peralatan-peralatan utamanya antara lain :
a.
Pompa.
Pompa digunakan untuk
memindahkan feed maupun produk dari tangki ke tangki maupun dari tangki ke
peralatan proses lainnya atau sebaliknya.
Pompa mempunyai
bermacam-macam jenisnya misalkan pompa centrifugal, pompa piston dan
lain-lainnya.
b.
Heat Exchanger.
Heat Exchanger atau alat
penukar panas yang berfungsi untuk berlangsungnya proses perpindahan panas
antara fluida satu ke fluida lainnya atau dari fluida panas ke fluida yang
lebih dingin yang saling mempunyai berkepentingan.
Atau sering juga dikatakan
Heat Axchanger adalah perpindahan panas antara umpan dengan produk sebagai
media pemanasnya.
Sebagai contoh adalah
crude oil dengan residu, dimana crude oil membutuhkan panas sedangkan residu
perlu untuk melepaskan panas. Dengan demikian melalui pertukaran panas ini
dapat dimanfaatkan panas yang seharusnya dibuang dan apabila ditinjau dari segi
ekonomi hal tersebut ini akan memberikan penghematan biaya operasi dari segi
pemanasan dan pendinginan.
c.
Furnace / Dapur.
Furnace disini yang
dimaksud adalah berfungsi sebagai tempat mentransfer panas yang diperoleh dari
hasil pembakaran bahan bakar. Didalam dapur terdapat pipa-pipa yang dipanaskan
dengan tersusun sedemikian rupa sehingga proses pemindahan panas dapat
berlangsung sebaik mungkin. Minyak yang dialirkan melalui pipa-pipa tersebut akan
menerima panas dari hasil pembakaran didalam dapur hingga suhunya mencapai 300oC
- 370OC tergantung dari jenis crude oilnya, yang kemudian masuk
kedalam kolom distilasi untuk dipisahkan komponen-komponennya.
d.
Kolom Distilasi.
Kolom distilasi adalah bejana
berbentuk silinder yang terbuat dari bahan baja dimana didalamnya dilengkapi
dengan alat kontak (tray) yang berfungsi untuk memisahkan komponen-komponen
campuran larutan. Didalam kolom tersebut dilengkapi dengan sambungan-sambungan
untuk saluran umpan, hasil samping reflux, reboiler, produk puncak dan produk
botom dan steam stripping.
e.
Kolom Stripper.
Kolom Stripper bentuk dan
konstruksinya seperti kolom distilasi, hanya pada umumnya ukurannya lebih
kecil. Peralatan ini berfungsi untuk menajamkan pemisahan komponen-komponen
dengan cara mengusir atau melucuti fraksi-fraksi yang lebih ringan didalam
produk yang dikehendaki.
Prosesnya adalah penguapan
biasa, yang secara umum untuk membantu penguapan fraksi ringan tersebut dengan
dibantu injeksi steam ada juga yang ditambah dengan reboiler.
f.
Condensor.
Hasil puncak kolom yang
berupa uap tidak dapat ditampung dalam bentuk demikian rupa, oleh karena perlu
untuk diembunkan sehingga bentuknya berubah menjadi cairan/condensat. Untuk
mengubah uap menjadi cairan/condensat tersebut dilewatkan condensor agar
terjadi pengembunan dengan media pendinginnya biasanya adalah air.
Panas yang diserap didalam
condensor sebagaimana panas pengembunannya (untuk merubah fase uap menjadi fase
cair) dalam hal ini setara dengan panas latennya. Secara teoritis penyerapan
panas didalam condensor tanpa diikuti dengan perubahan suhu.
g.
Cooler.
Bentuk dan konstruksi
cooler seperti halnya pada condensor, hanya fungsinya yang berbeda. Cooler
berfungsi sebagai peralatan untuk mendinginkan produk yang masih panas yang
mempunyai suhu tinggi yang tidak diijinkan untuk disimpan didalam tangki. Jika
condensor berfungsi sebagai pengubah fase dari uap menjadi bentuk cair, maka
cooler lain halnya, yaitu hanya sebagai
penurunan suhu hingga mendekati suhu sekitarnya atau suhu yang aman.
Jika didalam condensor
yang diserap adalah panas latent, sedangkan untuk cooler yang diserap adalah
panas sensible, yaitu panas untuk perubahan suhu tanpa diikuti perubahan fase.
h.
Separator.
Sesuai dengan namanya,
peralatan ini berfungsi untuk memisahkan dua zat yang saling tidak melarut,
misalnya gas dengan cairan, minyak dengan air dan sebagainya. Prinsip
pemisahannya adalah berdasarkan pada perbedaan densitas antara kedua fluida
yang akan dipisahkan. Semakin besar perbedaan densitas antara dua zat tersebut
akan semakin baik/mudah dalam pemisahannya.
i.
Perpipaan.
Perpipaan adalah suatu
sistim jaringan pipa yang menghubungkan dari peralatan satu dengan peralatan
lainnya. Pipa berfungsi sebagai alat penyaluran/ mengalirkan cairan atau gas.
Pipa dibuat dari bermacam-macam jenis bahan misalkan dari baja, karet, PVC dan lain-lain
tergantung dari keperluannya.
Untuk proses pengolahan
minyak pipa yang digunakan biasanya jenis baja dengan paduan carbon.
j.
Instrumentasi
Instrumentasi adalah suatu
alat kontrol yang digunakan didalam proses pengolahan minyak agar proses dapat
terkendali dan aman sehingga apa yang diharapkan dalam proses pengolahan dapat
tercapai.
Contoh
yang dikontrol antara lain flow, temperatur, tekanan, level dan lain-lainya.
d. Variabel Proses.
Variable
proses merupakan faktor-faktor (variable-variable) yang mempengaruhi terjadinya
proses itu. Pengaturan variable proses amatlah penting karena untuk mendapatkan
kualitas maupun kuantitas produk yang dikehendaki. Perubahan variable proses
akan mengakibatkan penyimpangan yang menyeluruh terhadap kualitas maupun
kuantitas produk. Oleh karena itu kontrol terhadap kualitas produk
dilaboratorium sangat penting karena untuk mengetahui apakah ada
penyimpangan-penyimpanagn dari variable proses. Variable
proses yang pokok yang perlu untuk dikendalikan secara cermat didalam proses
distilasi atmosferik adalah :
a. Temperatur/Suhu.
Suhu merupakan dasar dari
pemisahan di dalam distilasi atmosferik, suhu harus dicapai pada keadaan
tertentu untuk memperoleh fraksi-fraksi yang dikehendaki. Pengaruh suhu di dalam suatu proses distilasi merupakan faktor yang
sangat menentukan, karena pada proses ini terjadi pemisahan atas
komponen-komponen campuran berdasarkan titik didihnya. Sebagai contoh suhu di
dapur harus dicapai untuk menyelesaikan tugas pemanasan dan penguapan sehingga
suhu itu memenuhi suhu di flash zone. Apabila suhu terlalu tinggi maka didalam
dapur akan terjadi cracking (merengkah) didalam tube dapur kemudian dapat
berkelanjutan pembentukan coke (coking) didalam tube yang efeknya dapat
menghambat transfer panas dan bahkan akan merusak pipa dapur karena terjadi
over heating kemungkinan pipa bengkok atau akan berakibat pipa pecah. Pengaruh suhu operasi terlalu
tinggi akan berpengaruh pada beban reflux besar, beban condensor. Dengan suhu terlalu tinggi pengaruh terhadap produk, jumlah gas besar,
FBP produk akan naik, IBP produk bottom produk naik dan warna produk akan
jelek.
Apabila
suhu terlalu rendah reflux yang diperlukan sedikit dan pemisahan tidak tajam.
b. Tekanan.
Pada
distilasi atmosferik penurunan tekanan tidak begitu nampak pengaruhnya
dibandingkan dengan distilasi vakum maupun distilasi bertekanan. Pengaruh tekanan didalam
kolom fraksinasi terlalu tinggi, memberikan penguapan yang tidak sempurna
sehingga akan mengakibatkan tidak sempurnanya fraksinasi didalam kolom dapat
dilihat pada hasil pemeriksaan laboratorium bahwa FBP produk akan turun dan IBP
produk bottom akan turun.
Dengan tidak sempurnanya
penguapan, akan mengakibatkan fraksi ringan akan tercampur dengan fraksi
beratnya ini berarti pemisahan tidak tajam. Pada tekanan lebih rendah
penguapan akan lebih cepat sehingga fraksi ringannya akan kemasukan fraksi
berat.
c. Flow Rate.
Flow rate dari umpan pada
umumnya sudah ditentukan dari desain, kemungkinan suatu proses terjadi operasi
dengan flow rate umpan berbeda dengan perencanaan. Biasanya pengaruh flow
rate berpengaruh terhadap tingginya permukaan cairan (level) di dalam kolom
fraksinasi ataupun stripper. Jika aliran / flow rate
terlalu besar akan menambah beban dapur sehingga kebutuhan bahan bakar lebih
banyak karena untuk memanaskan umpan yang lebih besar. Pengaruh lain dengan
naiknya flow rate terhadap kolom, level botom kolom naik dan level bottom
stripper naik karena semakin besar jumlah produknya. Kalau kenaikan flow rate
terlalu besar kemungkinan akan terjadi floading di kolom karena terlalu besar
alirannya sehingga akan mengakibatkan pemisahan tidak sempurna/tajam. Terhadap
produk samping (side stream) pengaruhnya adalah terhadap titik didih awal,
titik didih akhir dan flash pointnya produk tersebut. Perubahan aliran juga
mempengaruhi kestabilan temperatur, hal tersebut dapat dilihat pada aliran feed
masuk ke dapur. Bila terlalu rendah alirannya sejumlah panas yang diterima oleh
crude oil didalam tube akan menaikkan suhu yang cukup tinggi karena jumlah
panas yang tidak sebanding dengan jumlah aliran crude yang dipanasi sehingga
untuk aliran yang rendah akan menerima panas yang berlebihan. Jika peristiwa
ini berlangsung dalam kurun waktu yang cukup lama dapat menimbulkan efek
sampingan yaitu terjadinya perengkahan yang kemudian berlanjut terjadi
pembentukan coke. Terbentuknya coke
mengahalangi transfer panas sehingga membentuk pemanasan setempat (hot spot)
yang selanjutnya panas yang berlebihan (over heating), bengkoknya tube (tube
bending), bergesernya tube (tube sagging) yang semuanya itu dapat menimbulkan
kerusakan fatal bahkan kebocoran dan kebakaran.
d.
Level.
Tinggi rendahnya permukaan
cairan didalam kolom fraksinasi akan mempengaruhi keadaan cairan pada tiap-tiap
tray. Bila permukaan cairan pada down comer suatu tray terlalu tinggi, maka hal
ini akan menimbulkan peristiwa banjir (floading), cairan akan meluap dan tumpah ke tray dibawahnya,
dan mengakibatkan produk pada tray dibawahnya akan terkontaminasi oleh fraksi
ringan dan mutunya rusak (off spec). Demikian pula bila
permukaan cairan pada dasar kolom terlalu tinggi maka akan menimbulkan
kemungkinan produk pada tray diatasnya akan menjadi off spec karena kemasukan
fraksi berat. Bila permukaan cairan terlalu rendah di dalam tray kemungkinan
uap tidak mampu menembus cairan sehingga fraksi ringan akan tercampur pada
fraksi berat sehingga IBP produk turun dan produk menjadi off spec. Untuk menjaga kesetabilan level (permukaan cairan) pada dasar kolom
biasanya digunakan sistim kontrol yang bekerja secara automatic.
Komentar